Pengamat: Berbahaya Tentukan Koalisi Tanpa Serap Aspirasi Pemilih
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah tokoh partai politik melakukan silaturahim politik ke tokoh lain sah-sah saja. Tapi berbahaya jika komunikasi tersebut untuk membangun koalisi untuk pemilu presiden nanti tanpa menyerap aspirasi pemilih lebih dulu.
Pengamat politik Universitas Diponegoro, Hasyim Asy'ari mengatakan, mestinya pengurus atau parpol bertanya lebih dulu pada pemilih atau konstituennya. Karena suara mereka juga, sebuah parpol mendapat hasil sampai sekarang untuk mendapat kursi.
"Jangan buru-buru berkoalisi hanya berdasarkan suara hasil hitung cepat. Langkah silaturrahmi oke. Tapi kemudian, jika sudah menyatakan berkoalisi dengan ini dan itu, tanpa bertanya pada pemilihnya berbahaya," ujar Hasyim di Jakarta, Selasa (15/4/2014).
Menurutnya, parpol harus menyadari betul bahwa keterwakilan mereka di lembaga perwakilan karena mandat rakyat yang memberikan hak suaranya. Sehingga partai harus bertanya, siapa calon presiden dan wakil presiden yang dikehendakinya.
Bagi partai yang sudah sejak awal menentukan pilihannya untuk capres, lalu rakyat memberikan suaranya untuk partai tersebut di pemilu legislatif, menunjukkan memang mereka merestui. "Lebih penting lagi, ada partai belum punya bayangan siapa capresnya, tiba-tiba digiring begitu saja kepada capres tertentu," ucapnya.
Seperti diketahui, sejumlah petinggi parpol melakukan safari politik pascahitung cepat. Mereka pun kemudian melakukan komunikasi untuk membangun koalisi untuk mengusung capres dan cawapres. Sementara sampai saat ini belum ada rasa terimakasih parpol ke pemilih.
April 15, 2014 at 08:06PM