Siti Aisyah, 9 Bulan Koma Pasca Operasi Tumor
Laporan Wartawan Bangka Pos, Dedy Qurniawan
TRIBUNNEWS.COM, BANGKA -- Siti Aisyah (34) terbaring lemah di kasurnya ketika Pimpinan Radio SQ, H. Muhari bersama Bangka Pos yang diwakili oleh News Manager, Dodi Hendriyanto menyambangi kediaman Siti, di kawasan Kampung Nelayan, Kelurahan Opas Indah, Pangkalpinang, Kamis (10/4/2014) petang.
Di rumah yang sebagian dindingnya dilapisi seng dan tampak belum benar-benar selesai dibangun itulah, Siti berselimut dan terkulai lemah di atas tempat tidur karena mengalami koma pascaoperasi pengangkatan tumor di kepalanya 9 bulan silam.
Adalah Wawan (45), seorang kuli atau buruh harian sekaligus seorang suami yang setia mendampingi Siti.
Dalam kunjungan tersebut, Wawan bercerita banyak mengenai bagaimana ia harus berjuang merawat Siti bersama kakak perempuan tertua Siti, Sri Sunarti. Setiap hari, mereka berganti-gantian menjaga dan merawat Siti jika salah satu dari mereka berhalangan karena harus tetap bekerja.
Wawan juga bercerita banyak tentang tumor yang diderita Siti.
"Awalnya kami tidak tahu kalau ia mengidap tumor. Kalau tidak ke Rumah Sakit di Sungailiat kami tidak tahu ia mengidap tumor. Gejala awalnya hanya pusing-pusing saja. Kami kira pusing-pusing biasa. Setelah dibawa ke Sungailiat untuk di-scan baru kemudian tahu ia mengidap tumor," kata Wawan yang menatap nanar Siti.
Begitu banyak yang ia kisahkan, mulai dari soal susahnya menembus birokrasi rumah sakit untuk pengoperasian Siti di RSCM sampai usaha kerasnya berjuang mati-matian untuk membiayai keperluan pengobatan Siti sehari-hari. Tak luput, termasuk seperti apa ia harus menemani Siti pascaoperasi di RSCM Jakarta, selama enam bulan ia harus tidur melantai menunggui Siti di salah satu ruangan di RSCM Jakarta.
"Waktu istri saya operasi kemarin, 6 bulan saya tidur melantai di ruangan istri saya dirawat inap", kenang Wawan.
"Saya sudah punya pengalaman lah kalau berurusan dengan rumah sakit, seperti apa-apa yang harus disiapkan terlebih dahulu ketika antre mengambil obat agar tidak harus mengulang antri dari awal karena ada syarat yang kurang", lanjut Wawan seraya tertawa getir.
Sementara itu, kakak perempuan tertua Siti, Sri Sunarti yang menemani Wawan merawat Siti bercerita bahwa kondisi Siti saat ini harus benar-benar diperhatikan. Terlebih setelah dikepalanya dipasangi selang guna membuang cairan karena tumor yang diderita Siti. Jika selang itu tersumbat, maka Siti akan mengalami kejang-kejang.
Selain berjuang untuk Siti, Wawan juga harus menghidupi tiga buah hati mereka. Si sulung sedang mengenyam pendidikan Pesantrean di Yogyakarta, sama halnya dengan anaknya yang kedua, menginap di asrama karena juga mengenyam pendidikan di salah satu Pasantren di Pulau Bangka. Sementara si bungsu yang berusia, 3 tahunan tinggal bersama Wawan dan Siti.
Dalam kunjungan petang itu, Pimpinan Radio SQ, menyampaikan sumbangan dari para pendengar setia radio SQ senilai Rp 7.370.000,-. (M3)
April 10, 2014 at 08:18PM