Tujuh Belas Orang Berdesakan di Rumah Sempit

TRIBUNNEWS.COM -- PERNAH membayangkan harus hidup berdesakan di dalam satu rumah yang sempit setiap hari? Itulah yang dialami keluarga Karim Ibrahim. Rumahnya yang terbilang jauh dari kata luas ditempati oleh sedikitnya tujuh belas orang.

Kakek berumur 72 tahun ini harus rela berdesakan dengan istri, tiga orang anak, dua menantu, dan sepuluh cucunya yang kian hari kian bertambah besar di rumah berukuran 6x3 meter persegi.

Rumah yang berada di Jalan Sukanegla RT 01/01, Kelurahan Antapani Kulon, Kecamatan Antapani, itu seharusnya cocok untuk digunakan oleh sebuah keluarga dengan anggota keluarga maksimal lima orang. Namun, ia tetap bertahan bersama semua anggota keluarga besarnya di rumah kecil itu.

Rumah Karim berada tepat di sisi selokan yang diapit oleh dua rumah yang terbilang layak dan cukup besar. Posisi rumah yang berdampingan dengan selokan juga otomatis membuat aroma tidak sedap tercium hingga ke dalam rumah Karim.

Di rumah itu, dapur ditempatkan di bagian depan rumahnya. Dua kompor sumbu dan rak piring tampak tak teratur di depan rumahnya. Tak hanya itu, atap rumah Karim tanpa eternit, langsung berhadapan dengan genting yang tampak sudah tua dan rapuh. Lantai rumahnya tak berubin, hanya beralas olesan semen.

Karim menuturkan, setiap malam saat waktu tidur, keluarganya harus berbagi tempat satu sama lainnya. Sebagian ada yang tidur di ruangan depan, sebagian lagi harus bertumpuk di ruang tengah rumahnya.

"Kalau tidur dibilang nyenyak enggak, dibilang ga nyenyak juga mau bagaimana lagi. Semua tidur aja di sini, numpuk. Susahnya itu kalau malem mau ke air aja misalkan, susah harus ngelewatin yang pada tidur," ujar Karim kepada Tribun di kediamannya, Selasa (28/10/2014).

Faktor kesulitan ekonomi pun menghinggapi keluarganya. Lelaki yang sudah tak bisa banyak bergerak dan melakukan aktivitas itu sehari-hari hanya bisa berada di dalam rumah. Untuk kehidupan sehari-hari, Karim mengandalkan menantunya yang bekerja sebagai kuli bangunan.

"Sudah tua, jadi sudah ga kuat kerja. Setiap hari dari menantu saja, kerja bangunan, ngaduk di tempat orang," katanya.
Karim mendiami rumah yang dibeli orang tuanya itu sejak 1983. Tak ada biaya untuk pindah ataupun memperluas rumahnya. Itulah alasan Karim harus tetap rela melihat keluarga besarnya berdesakan di rumah itu.

Tak sungkan, ia jelas mengharapkan bantuan dari masyarakat atau dari pemerintahan untuk kenyamanan hidupnya. Ia hanya berharap, kehidupannya dapat lebih baik dan melihat keluarga besarnya dapat tinggal dengan nyaman.

Aparat kewilayahan setempat di Kecamatan Antapani yang mendapatkan ada kabar mengenai warganya yang tinggal satu atap 17 orang ini langsung meninjau keadaan rumah milik warganya tersebut.

Camat Antapani Aca Herwansyah mengaku prihatin masih ada warganya yang tinggal di rumah kecil yang dihuni oleh 17 jiwa. Ia berjanji akan mencoba membantu keluarga Karim dengan merenovasi dan memperluas kediamannya agar jauh lebih baik.

"Sudah kami usulkan. Nanti ada kegiatan dari rutilahu, ada perbaikan rumah. Kalau untuk anggarannya, kami akan bentuk panitia yang melibatkan RW untuk mencari donatur," kata Aca kepada Tribun.

Ia pun akan bergerak cepat untuk memberikan bantuan kepada Karim setelah melihat secara langsung keadaan rumahnya. Menurutnya, tidak wajar rumah milik Karim dihuni oleh belasan jiwa.

"Kami juga nanti melalui BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat), mudah-mudahan sesegera mungkin dan semoga tahun ini bisa selesai," kata dia.

Berkaca pada keluarga Karim yang hidup serba-kekurangan, ia mengakui, meskipun kawasan Antapani dikenal dengan adanya perumahan-perumahan elite, masih banyak warganya yang hidup di bawah garis kemiskinan. "Memang kita punya data ada 1.124 kepala keluarga yang tidak mampu, yang dikategorikan warga miskin," kata dia. (Dony Indra)



October 29, 2014 at 09:43AM

Leave a Reply