Cirebon Alami Krisis Pembantik

Cirebon Alami Krisis Pembantik
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Seorang karyawan sedang menata kain batik khas Cirebon yang dijual di toko batik EB Tradisional, di Plered, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (29/7/2012). Toko yang dimiliki oleh Edi Baredi ini menjadi salah satu yang banyak dikunjungi warga yang bepergian dan mudik melewati Cirebon. TRIBUNNEWS/HERUDIN

TRIBUNNEWS.COM, CIREBON - Pengusaha batik di Cirebon terpaksa memaklunkan (mengupahkan) pembuatan batik ke perajin di Pekalongan, Jawa Tengah. Itu dilakukan karena minimnya jumlah perajin batik di Cirebon.

Padahal sejak lima tahun lalu, batik diakui UNESCO sebagai budaya tak benda warisan manusia (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Pesona batik pun kian cemerlang, seiring banyaknya orang yang mengenakan batik.

Bahkan penggemar batik bukan saja warga Indonesia, tapi juga warga negara asing.

"Kami kirim kain dan bahan bakunya ke sana (Pekalongan). Kami juga yang meminta motif apa yang harus dikerjakan," kata pengusaha batik asal Trusmi, Kabupaten Cirebon, Ibnu Riyanto, saat ditemui di showroom miliknya, Rabu (1/10).

Ibnu mengaku, ia terpaksa melakukan itu karena jumlah perajin batik di Cirebon terbatas sementara pesanan batik terus mengalir, bahkan saat ini banyak orang asing yang memesan batik darinya.

"Kalau mengandalkan perajin Cirebon, kami keteteran," ujar Ibnu.

Dia mengungkapkan, warga Cirebon, bahkan yang tinggal di Desa Trusmi dan sekitarnya pun, banyak yang tak tertarik menjadi perajin batik.

Karena itu, dalam beberapa tahun ini tidak ada regenerasi. Itu terjadi, kata dia, karena membatik dianggap sebagai pekerjaan yang membosankan.

Selain itu, membatik juga dianggap profesi rendahan oleh kalangan anak muda.

"Sekarang anak muda lebih tertarik bekerja di toko atau supermarket. Di sini saja, pelamar rata-rata tertarik menjadi pramuniaga atau bagian kasir, meski sebetulnya dia punya keterampilan membatik," kata Ibnu.

Sementara itu, pemilik Mahkota Batik, Ari Muktiono, mengatakan, perlu ada regenerasi dan pelatihan bagi generasi muda agar batik bisa terus lestari.

"Sekarang yang membatik itu rata-rata lanjut usia. Anak muda tidak tertarik karena membatik dianggap kuno. Padahal tidak demikian," kata Ari di SMPN 18 Cirebon, Kamis (2/10).

Ari mengatakan, perlu ada perubahan mindset di kalangan anak muda agar tertarik membatik. Ini penting agar warisan budaya bangsa itu tidak punah ditelan zaman.

Karena itu, Ari mengapresiasi apa yang dilakukan siswa SMPN 18 Cirebon dalam membatik topi. Mereka mau belajar dan membuat batik sejak dini, meski harus berbagi waktu dengan belajar yang lain.

"Mudah-mudahan dari mereka kemudian terlahir perajin batik profesional," katanya.

Di SMPN 18 Cirebon, membatik merupakan bagian ekstra kulikuler yang wajib diikuti semua siswa mulai kelas 1 hingga kelas 3. Mereka diajarkan membatik oleh perajin batik yang didatangkan langsung ke sekolah. (roh)



October 03, 2014 at 05:30AM

Leave a Reply