Pelajar SMPN 18 Cirebon Pecahkan Rekor Dunia
TRIBUNNEWS.COM - RAGAM cara dilakukan dalam memeringati Hari Batik Nasional. Siswa SMPN 18 Cirebon pun memilih memeringatinya dengan membatik topi secara massal.
Tidak tanggung-tanggung, siswa yang terlibat mencapai 515 orang, dan angka itu berhasil memecahkan rekor dunia.
Bertempat di lapangan SMPN 18 Cirebon, Kamis (2/10), ratusan siswa membatik secara massal di bawah naungan tenda. Mereka duduk berkelompok dengan jumlah anggota per kelompok antara lima hingga tujuh orang.
Setiap kelompok diberi satu buah wajan berisi cairan malam yang panas. Cairan itulah yang digunakan sebagai bahan untuk membatik. Dan siswa pun tampak berhati-hati menggoreskan cairan malam ke atas kain topi dengan menggunakan canting.
"Ini baru pertama kali membatik, makanya rada kaku," kata Eka Saputra, siswa kelas IX B. Wajah Eka pun tampak tegang ketika membatik. Tidak ada senyuman, kecuali ketika teman-temannya menggoda dia.
Setiap siswa diberi kebebasan dalam menentukan motif batik yang dibikin. Tidak ada gambar sketsa sebelumnya di atas kain, sehingga siswa benar-benar diberi kebebasan dalam berekspresi.
Meski demikian, rata-rata siswa membatik dengan motif bunga. Ada juga yang memadukan bunga dengan aneka binatang seperti kupu-kupu dan capung, dan memadukan bunga dengan tulisan nama.
Seperti yang dilakukan Tanti, siswa kelas VIII F. Dia memadukan motif bunga dengan tulisan NEWLAS LOVE di bagian depan topi.
Menurutnya, kalimat itu mengandung arti cinta SMPN 18. "Newlas itu nama beken SMPN 18 Cirebon," kata remaja ini.
Lain dengan Agus Umarudin, siswa kelas IX E.
Dia memilih membuat motif batik dengan logo kesebelasan kesayangannya, Persib Bandung. Logo Persib itu dibikin di bagian depan topi, sehingga begitu topi dikenakan akan langsung terlihat oleh orang lain.
Terkait logo Persib, Agus mengaku karena ia merupakan penggemar Persib. "Saya bobotoh. Suka sekali dengan Persib," katanya.
Kepala SMPN 18 Cirebon, Hj Sumiati, mengatakan, membatik massal di atas topi dengan melibatkan 515 siswa merupakan bagian dari peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober.
"Kebetulan di kami juga ada ekstra kulikuler membatik, sehingga akhirnya keluar ide bagaimana memecahkan rekor MURI membatik topi dengan jumlah terbanyak," katanya.
Ide itu pun, kata dia, kemudian dikomunikasikan dengan MURI. Akhirnya MURI pun mencatat rekor tersebut. Alhasil, apa yang dilakukan siswa SMPN 18 Cirebon pun berhasil memecahkan rekor dunia.
Senior Manager Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Paulus Pangka mengatakan, sebelumnya pernah tercatat di rekor MURI membatik dengan media topi dengan jumlah peserta 386 orang di Pekalongan.
"Namun hari ini di Kota Cirebon tepatnya di SMPN 18 Cirebon tercatat ada 515 siswa membatik di atas topi. Membatik SMPN 18 Cirebon ini berhasil memecahkan rekor dunia," ujarnya saat menyerahkan piagam rekor MURI kepada SMPN 18 Cirebon, kemarin.
Membatik topi yang diikuti ratusan siswa SMPN 18 Cirebon, itu kata Paulus baru pertama di Indonesia. Sebelumnya, membatik topi massal di Pekalongan dilakukan para guru besar, dokter, dan dosen Undip.(ida romlah)
October 03, 2014 at 05:36AM