LGN Gelar Long March Menuntut Ganja Dilegalkan
TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA – Rocky Aditya (22) menempuh jarak ratusan kilo meter untuk mengikuti long march bersama kawan-kawannya di Lingkar Ganja Nasional (LGN) Surabaya, demo legalisasi Ganja, Sabtu (3/5/2014).
Meski LGN Jakarta juga menggelar aksi serupa, pemuda asal Tanggerang ini memilih datang ke Surabaya dan berorasi mengenai perbedaan perlakuan antara Minuman Keras (Miras) beralkohol yang legal dengan ganja yang dinyatakan Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai zat terlarang.
”Aksi di sini (Surabaya) hanya mempererat silaturahmi sebagai sesama LGN saja. Seru juga long march sama arek-arek Suroboyo,” kata Rocky di sela-sela Aksi Long March Internasional Menuntut Legalisasi Ganja, di depan IRD DRUS Dr Soetomo.
Datang bersama empat kawannya dari Tanggerang, Rocky menerangkan adanya konspirasi ketika Miras diperjualbelikan secara legal di Indonesia, sementara ganja diharamkan.
”Bahkan UU Narkotik tidak melindungi pasien kanker, tumor, dan lainnya, yang membutuhkan ganja untuk terapi pengobatan. Para pemakai ganja disamaratakan dan dianggap kriminal. Kalau alkohilik legal, harusnya pengguna ganja sama legalnya,” urai Rocky.
LGN menuntut agar BNN dan DPR mencabut keterangan terlarang bagi tanaman bernama latin cannabis sativa ini. Rocky menjelaskan, efek yang ditimbulkan dari mengonsumsi Miras dengan ganja lebih berbahaya miras. Hal ini karena orang cenderung tidak bisa mengontrol emosi ketika mengonsumsi Miras.
”Kasus-kasus kekerasan biasanya terjadi setelah pelaku mengonsumsi alkohol. Sedang penggunaan ganja dipakai di dunia medis, untuk relaksasi dan terapi, serta dijadikan bumbu makanan,” jelasnya.
Aksi dimulai pukul 14.30 WIB dari depan Kampus A Universitas Airlangga. Perjalanan dilakukan mengelilingi kompleks RSUD Dr Seotomo dan sempat berhenti sementara di depan IRD untuk menyerahkan buku Hikayat Pohon Ganja yang ditulis Tim LGN dan telah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2011 lalu ke pihak RSUD Dr Soetomo.
Rocky menyatakan fakta bahwa buku tersebut diterima penerbit besar menandakan buku itu telah melalui proses riset mendalam yang panjang.
“Saya tidak termasuk tim utama pembuat buku itu. Tapi bisa diterbitkan oleh Gramedia, itu artinya buku kami tidak sembarangan karena kami melakukan kajian-kajian ilmiah terhadap data-data yang ada,” paparnya.
Setelah buku itu diterima perwakilan RS, aksi long march diteruskan sampai di Taman Suryo, di mana para pendemo kembali berorasi dan memainkan musik perkusi.
Korlap aksi, Rido Bawares, menambahkan literatur peradaban kuno akrab dengan tanaman yang identik dengan penyanyi regae legendaris Bob Marley ini.
Penggunaan ganja pada peradaban itu, lanjut Rido, digunakan utuk menunjang kehidupan manusia. Rido menjelaskan pohon ganja digunakan sebagai bahan kertas pertama di dunia pada Dinasti Han sekitar ribuan tahun lalu.
Pada zaman Romawi, lanjutnya, batang ganja dicampur kapur dan air untuk menghasilkan material beton.
”Mulai dari peradaban China, Eropa, hingga agama-agama Timur sudah akrab dengan tanaman ini. Kami bukannya sekumpulan pemuda pemalas. Kami lakukan riset, baik itu literatur maupun penelitian tanaman ganja untuk kesehatan,” imbuh Rido.
May 03, 2014 at 10:53PM