Berjumpa Tuhan di Puncak Bukit

Berjumpa Tuhan di Puncak Bukit
pos kupang
Kapela di Oebelo 

TRIBUNNEWS.COM  --- Dari puncak bukit Oebelo, langit senja tampak di sebelah barat. Semburat merah ungu menggaris cakrawala, memantul di permukaan laut, Teluk Kupang. Dari kejauhan mata memandang, perahu nelayan, timbul tenggelam dalam temaram cahaya senja.

Dan di puncak bukit Oebelo, sebuah kapela kecil berdiri kokoh dalam sepi yang damai. Nyala lilin meliuk-liuk dibelai angin senja, mengirim damai ke seluruh ruangan. Sepi dalam hening yang pasrah.

Lantunan syair dan doa dari beberapa pengunjung kapela bagai musik jiwa, membasahi kalbu yang kering. Memantul-mantul bagaikan tetesan air dari sorga, menyegarkan jiwa. Lantunan doa dalam jerit jiwa yang pasrah, seakan memanggil-manggil Sang Khalik, penguasa langit dan bumi.

Di bangku beton, di sudut barat pelataran ampiteater, seorang gadis duduk merunduk sambil menggenggam untaian manik-manik Rosario. Tak berani ia menatap ke altar yang jauh di depan. Butiran air mata membasahi kedua pipinya. Sesekali suara isak terdengar dari semedi dukanya.

Sementara di dalam kapela, empat pria dan tiga wanita, duduk bersila di lantai keramik. Lantunan doa dan syair lagu bersahut-sahutan dari bibir mereka.

"Saya merasa seperti datang berjumpa Tuhan di surga. Di sini tenang dan damai sekali. Sebelum saya berlutut dan berdoa, saya seperti sudah merasa dijamah. Beban jiwa saya lenyap seketika. Saya sampai menangis terharu karena sangat bahagia, berjumpa dengan Tuhan di bukit yang sepi ini," jelas Maria Herawaty Kusuma (25), gadis peziarah yang ditemui suatu petang di Bukit Taman Ziarah Yesus-Maria Oebelo.

Gadis manis asal Jakarta ini mengaku tiba di Kupang dalam suatu urusan di kantor cabang di Kupang. Ia tahu tentang Taman Ziarah Yesus-Maria Oebelo dari cerita beberapa pastor dan biarawati di Jakarta.

"Dan setelah tiba di sini, saya benar-benar terpukau. Di sini sepi dan damai. Pemandangan juga bagus. Dari bukit ini, saya bisa melihat laut di Teluk Kupang. Apalagi saat senja hari seperti sekarang," tukas Maria seraya memandang ke Teluk Kupang.

Maria mengaku sudah mengelilingi beberapa tempat ziarah di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, saat melaksanakan tugas kantor di daerah. Namun belum pernah berjumpa tempat ziarah yang sepi dan damai seperti di Oebelo. Di tempat ziarah lainnya, lanjut Maria, terlalu banyak orang yang datang. Terlalu ramai. Kekhusyukan berdoa terganggu sebab tempat ziarahnya kecil dan sempit.

Tapi di Bukit Oebelo, lanjutnya, tempat ziarahnya luas hingga lima hektar. Semua kendaraan diparkir di kaki bukit. Peziarah berjalan kaki, seakan melakukan ritual jalan salib mendaki Bukit Golgota. Ia menyarankan, taman bunga dan pohon peneduh harus ditanam lebih banyak, menutupi punggung bukit. Ia juga minta air mancur ditempatkan di beberapa sudut, agar memberi kesan tenang dan menyegarkan.

"Kalau saya menyarankan, petugas menyediakan mobil khusus untuk peziarah yang sudah uzur usianya dan untuk orang yang sakit-sakitan agar mereka bisa menjangkau kapela di atas bukit," demikian saran Petrus Kanisius Suroto, peziarah lainnya.

Usai mengantar ke atas bukit, kendaraan kembali ke tempat parkir di kaki bukit. Ia melihat, warga sekitar tidak menjual cindera mata, benda-benda kudus yang khas NTT.

"Saya lihat rosarionya didatangkan dari Jawa. Kadang lilin saja tidak dijual. Kami harus beli di tempat lain. Coba benda-benda kudus yang dijual itu khas NTT. Saat pulang ke Jawa, orang yang melihatnya tahu bahwa itu hanya dijual di Taman Ziarah Yesus-Maria Oebelo, di Kupang, NTT," jelas Suroto.

Ia melihat belum ada satu pun ordo biara untuk biarawati yang dibangun dalam kompleks Taman Ziarah Oebelo. Padahal, jika ada biara, akan memberi kesan mendalam sebagai tempat religius yang harus dijaga dan dihormati. Dan, bukan sekadar tempat wisata rohani.

Kekaguman yang sama, diungkapkan Karel Steinberg, seorang pendeta Kristen Protestan, yang sempat mampir di bukit Oebelo. Karel  mengaku, Taman Ziarah Yesus-Maria di Oebelo, adalah salah satu tempat ziarah terbaik yang dikunjunginya.

"Jika ditata lebih bagus, dalam waktu dua atau tiga tahun lagi, akan menjadi salah satu tempat ziarah terbaik di dunia," jelas Pater Seles, CMF, mengutip perkataan Steinberg.

Pater Seles, CMF dan Pater John, CMF, adalah custos. Keduanya pengurus Dewan Pastoral Keuskupan Agung Kupang, Taman Ziarah Yesus-Maria Oebelo. Keduanya menjelaskan ada kelompok umat kristen lainnya yang datang 'meminjam' Bukit Oebelo, untuk melakukan aktivitas kerohanian. Keduanya mencontohkan, jemaat dari GMIT Maranatha Oebufu, sempat mampir baru-baru ini.

"Ada area publik, yang bisa dipakai umat dari agama apa saja untuk melakukan aktivitas kerohanian. Mereka juga bisa pinjam aula pastoran. Tapi ada area privat dekat altar, yang hanya boleh didekati oleh umat Katolik," tandas Pater Seles.

Ia mengaku, tamu di Taman Ziarah Yesus-Maria Oebelo mengalir sejak dini hari. Ada yang sampai pukul 01.00 wita dini hari.

"Hari minggu atau hari libur bisa mencapai 200 lebih orang. Mereka berdoa sampai malam. Ada yang sampai dini hari. Meski begitu tetap aman, tidak ada gangguan. Sebab lampu penerangan nyala sampai pagi. Dan ada petugas keamanan yang menjaga," jelas Pater Seles.



March 17, 2014 at 07:27AM

Leave a Reply