Kisah Pemulung Tua Setiap Hari Angkut Anaknya yang Sakit di Atas Becak Sepeda

Kisah Pemulung Tua Setiap Hari Angkut Anaknya yang Sakit di Atas Becak Sepeda
Tribun Pekanbaru/Nasuha Nasution
Pak Dayat saat berhenti mendorong becak sepedanya di Jalan Bukit Barisan, Pekanbaru. Di atas becak sepeda itu anaknya Upik (12), menderita step dan dibawanya bekerja sebagai pemulung. 

TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU - Mengenakan kaos lusuh yang basah dengan keringat dipadukan celana yang juga lusuh, Dayat (50) terus mengayuh becak sepedanya.

Hujan dan panas Dayat tetap terus mengayuh becak sepeda yang di atasnya terbaring anak kandungnya, Upik (12).

Laki-laki paruh baya itu sudah empat tahun lamanya membawa anaknya yang sakit itu kemana-mana dari atas becak miliknya. Upik menderita step (kejang-kejang) sejak lahir.

Tidak ada yang menjaga di rumah saat ia mencari barang bekas. Akhirnya diputuskan, anak perempuannya ini dibawa terus di atas becak, juga tempat barang bekas yang dipungutnya.

"Setiap hari dibawa kerja, tidak ada yang jaga, kadang kalau badannya panas kejang-kejang, makanya dibawa kerja terus," ujar Dayat saat berbincang dengan Tribun.

Tidak tanggung-tanggung, sehari-hari Dayat bekerja sebagai pemulung ini harus mengayuh dan mendorong sepeda becaknya itu lebih dari 10 kilometer. Rute dilaluinya, mulai dari rumah mereka di Jalan Sepakat menuju Bukit Barisan, Kecamatan Tenayan Raya, kadang hingga Imam Munandar, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru.

"Sehari itu lebih 10 kilo bawa becak ini, kadang dikayuh, kadang didorong, sering berhenti di jalan," ujar Dayat sambil mengelap keringat mengucur deras di wajahnya.

Halaman123


April 04, 2015 at 11:47PM

Leave a Reply