Di Pantai Ini Cari Korban Kecelakaan Pesawat Pakai Cara Mistis

Di Pantai Ini Cari Korban Kecelakaan Pesawat Pakai Cara Mistis
net
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, AIRMADIDI - Ada cerita menarik di Minahasa Utara, Sulawesi Utara tepatnya di lokasi jatuhnya pesawat carter milik Elang Nusantara Air di Pulau Lembeh dan Kema. Pesawat tersebut dari Gorontalo menuju Ternate-Sorong.

Tim SAR sempat kesulitan melakukan pencarian korban jatuhnya pesawat tersebut. Namun, berdasarkan cerita tokoh masyarakat setempat biasanya jika terjadi kecelakaan dikarenakan kelalaian sendiri untuk budaya mencari korban jika terjadi kecelakaan dilakukan secara mistik dan itu sering dilakukan pada medio tahun 70-an. Masuk tahun 2000-an ini sudah tidak ada lagi ritual tersebut.

Max Corneles, Hukum Tua Kema II mengatakan posisi pantai Firdaus Kema Minahasa Utara menurut sejarahnya adalah tempat pendaratan pertama para penginjil diantaranya Reidel dan Schwarz serta beberapa penginjil yang lain.

Dikatakan Max sejarahnya pertama kali masuknya injil Kristen Protestan masuk pertama kali yaitu Riedel dan Schwarz. Banyak sejarah sehingga dinamakan pantai Firdaus. Dan tidak ada kejadian-kejadian saat ada orang mandi tenggelam di pantai Firdaus sehingga pantai ini dinamakan Firdaus.

Menurutnya, mengenai kondisi laut baik dan untuk arus pantainya jika hanya mandi di pinggiran pantai aman. Kadang ada beberapa waktu tertentu saja, area pantai sering berubah-ubah sesuai musim.

"Arus laut Kema biasanya untuk atasnya mengarah ke pantai dan dibawah lautnya mengarah sebaliknya sehingga, kemungkinan bangkai pesawat bergeser karena ada arusnya," ucap Max.

"Disebut pantai Firdaus pertama kali adalah pelabuhan Kema dan penginjil masuk pertama kali," tambahnya.

Sementara itu, Jefry Luntuh Kahu warga Kema II berkata dahulunya tahun 70-an ada orang-orang spiritual ada dan akhir-akhir ini tidak ada lagi.Katanya, orangtua dulu mengatakan ada arus patah, biasanya arus dibawah laut mengarah ke laut dan di atas arusnya mengarah ke darat.

"Tidak ada lagi spiritual-spritual seperti itu sejak beberapa tahun terakhir, hanya menggunakan alat-alat biasa dan jika ada kecelakaan seperti itu dianggap kecelakaan bukan karena hal mistik," ungkapnya.

"Tidak ada cerita-cerita mistik di area pantai Kema," pungkasnya menutup pembicaraan. (Maickel Karundeng)



December 04, 2014 at 05:51PM

Leave a Reply