Sean Gelael Selalu Merasa Tenang di Sisi Ibunya
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Deodatus S Pradipto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di balik pria hebat, terdapat perempuan hebat. Ungkapan itu cukup untuk menggambarkan sosok pebalap Formula 3 asal Indonesia, Sean Gelael. Tanpa ibunya, Sri Sudarini, Sean akan merasakan hal yang berbeda.
“Mama di mata saya adalah figur di mana saya selalu merasa tenang, bahagia, dan aman bila Mama berada di sisi saya. Sebagaimana layaknya Ibu sebagai orang yang terdekat dengan anak,” tutur pemuda 18 tahun itu via surat elektronik kepada Tribunnews.com.
Sri Sudarini yang mantan pemain film pada era 1980-an, selalu mendukung penuh Sean dalam meniti kariernya di lintasan balap. Menurut Sean, Sri Sudarini yang populer dengan nama Rini S Bono selalu memberikan dukungan moral, baik sebelum maupun sesudah balapan.
“Hampir di setiap balapan Mama selalu hadir. Kita tahu bahwa balapan merupakan olahraga dengan risiko tinggi dan wajar bagi seorang Ibu selalu mendampingi. Kemungkinan besar sekarang Mama mulai tertarik dengan balapan,” ungkap Sean yang putra mantan pebalap nasional, Ricardo Gelael.
Seiring waktu berjalan, Sean menjelma menjadi pebalap potensial yang mulai mendapat perhatian dari dunia internasional. Nama Indonesia pun semakin besar berkat torehan prestasi Sean di berbagai kejuaraan bertaraf internasional. Di antaranya FIA F3 European Championship dan British F3 International Series.
Secara berturut-turut Sean bahkan menjadi satu-satunya wakil Indonesia pada Macau Grand Prix pada tahun 2013 dan 2014. Macau Grand Prix sendiri merupakan kompetisi F3 yang diikuti oleh 28 pebalap muda terbaik di dunia dan hanya digelar setahun sekali.
Berawal dari navigator, Sean kemudian bergeser ke balik kemudi. Ketika menginjak usia 13 tahun, Sean sukses mencuri perhatian usai menjuarai Asian Karting Open Championship pada 2011. Setahun berselang, Sean beralih ke Formula Pilota China. Dasar berbakat, Sean sukses menduduki peringkat keempat klasemen umum dan posisi kedua klasemen pebalap Asia terbaik pada musim perdananya.
Sean Gelael yang saat ini menjalani studi di Inggris, tidak mau berpuas diri. Berbekal keyakinan penuh, Sean memutuskan untuk berkecimpung di Formula 3 Eropa. Tahun 2013 menjadi debut Sean di F3 Eropa. Musim perdana di F3 Eropa tidak semulus yang diharapkan. Sean gagal meraih angka dan harus puas berada di peringkat ke-28 pada akhir kompetisi.
Kegagalan itu tidak membuat Sean patah arang. Kegagalan pada 2013 menjadi modal yang berarti bagi Sean. Pebalap tim Jagonya Ayam with Carlin itu mampu sembilan kali finis di peringkat 10 besar. Hasilnya, Sean mengakhiri musim kompetisi di peringkat ke-18 dari 30 pebalap. Dari tanpa nilai pada musim sebelumnya, tahun ini Sean mampu meraih 25 angka.
“Banyak hal yang belum bisa saya berikan kepada Mama karena umur saya yang baru 18 tahun. Dari segi materi, saya belum dapat memberikan apa-apa. Hanya perhatian dan kasih sayang yang baru dapat saya berikan kepada Beliau. Saya ingin memberikan kebanggan dari dunia pendidikan dan balapan di kemudian hari,” papar Sean yang selalu diingatkan Rini untuk berdoa sebelum balapan.
December 02, 2014 at 09:18PM