Relawan Jokowi Minta Polisi Jangan Cemari Sastra

Relawan Jokowi Minta Polisi Jangan Cemari Sastra
Tribunnews.com
Penyair Saut Situmorang (kiri) dan buku kontroversial 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (Kanan). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Debat sastra adalah dunia unik yang lepas dari segala warna dan aroma kekuasaan.

Jika kepolisian memasuki debat sastra sama dengan mencemari sastra, mengadili pikiran, memaksa sastrawan menjawab apa saja sesuai keinginan penyidik.

"Kalau aroma kekuasaan polisi campur tangan dalam debat sastra Saut Situmorang cs, sungguh kemunduran," kata Sihol Manullang, Ketua Umum Barisan Relawan Jokowi Presiden (BaraJP) di Jakarta Sabtu (28/3/2015).

Sihol mengatakan, kemenangan Jokowi adalah kebangkitan rakyat, ekspresi kebebasan rakyat menentukan pilihan, lepas dari sekat partai politik.

Sudah terbukti, parpol dan kekuasaan, tidak bisa mengintervensi pikiran rakyat.

"Estetika dan puisi, dunia yang berbeda dengan kepolisian. Walaupun ada pengaduan, tetapi seharusnya polisi tidak buta. Harus ada nurani kejujuran," kata Sihol menanggapi penjemputan polisi terhadap penyair Saut Situmorang dari Yogyakarta.

Sihol yang juga mantan wartawan Suara Pembaruan (1986-2000) dan dulu sering menulis tentang seni, mengatakan, interpretasi dalam sastra juga berbeda dengan ilmu atau filsafat.

Halaman12


March 29, 2015 at 02:52AM

Leave a Reply